Batu Penuh Lumut

Sudah seminggu ingin rasanya saya menulis tentang hal ini namun baru terealisasikan kali ini,

pertama-tama saya akan menjelaskan judul pada tulisan saya kali ini, “Batu penuh lumut” sebelumnya
coba bayangkan sebuah kubangan penuh batu di dalam sebuah hutan,ada sebuh batu di antarannya, batu ini
sejak bumi diciptakan tetap berada disana, tidak bergeser sedikitpun, berhari hari, berbulan bulan, bertahun tahun,
batu ini tidak pernah bergerak se inci pun dari tempatnya, sampai sampai pergantiaan musim di membuat sekitarnya
berlumut, tapi dia tidak peduli, karena sudah merasa nyaman menjadi seongkok batu dia terus melanjutkan kehidupannya
dia tidak peduli terhadap kebosanannya karena ia merasa tidak dapat melakukan apa-apa atau tepatnya menerima apa
yang ditakdirkan tuhan untuknya, ia tak pernah bosan, sampai tuhan pun bosan dengannya, dan mengakhiri hikayatnya
sebagai batu.

Cerita itu sebenarnya mencerminkan kehidupan masyarakat di pancor,lombok timur ini yang tidak
mengalami perubahaan sedikitpun sejak saya lahir di kota ini sampai hengkang dan kembali lagi ke kota ini.

Hal ini di mulai sejak saya menginjakkan kaki ke kota kelahiran saya ini, dan menghirup napas yang dingin dan sejuk disini,
sejauh mata memandang tidak ada perubahan dalam kehidupan masyarakatnya, tetap seperti dulu, mungkin yang berubah
hanya jalur lalu lintas yang kini di buat satu arah, selepas itu mereka bagaikan batu berlumut.

Suatu malam saya di ajak oleh kawan lama untuk mengunjungi rumah kawan lama saya yang lain, kami menghapiri rumahnya
dan mengingat kembali kenangan masa lalu yang lucu,indah dan mengasyikkan kami bahkan seperti bisa melihat kembali bagaimana
canda tawa dan gerak gerik kami saat pulang bersepeda di smp dan sma, melihat bekas ban jalur sepeda kami di aspal sebuah
gang yang tidak berubah dan membeli sebuah es bungkus di sebuah toko yang bahkan tidak berubah sedikitpun sejak kami disana,
pada moment ini saya memperhatikan toko ini, toko yang dulunya setiap hari kami lewati ini, sungguh setelelah bertahun-tahun
tiada perubahaan sedikitpun dari toko ini, bahkan nenek-nenek penjualnya pun tetap sama, Ok saya akui ada perubahan kecil
yang terjadi tetapp perubahan yang terjadi malah tidak menambah kesan bahagia dalam pandangan saya, yang berubah dari toko ini
yaitu uban nenek penjual tokonya yang semangkin banyak dan ditambah lagi kayu pentutup tokonya yang sekarang semangkin lapuk
dari situ saya melihat bahwa mereka ini seperti batu yang lumutnya telah di kerumbungi lumut…

Berkaca dari semua itu saya berpikir, saya tidak ingin hidup seperti mereka, hidup statis seperti kebanyakan orang disini bahkan
mungkin orang-orang seperti itu akan bertambah dengan kehidupan anak-anak yang dulunya bersorak di jalanan kota yang kini telah
dewasa dan kini perlahan lahan menjadi sebuah batu di kota ini, Hmm.. saya sempat menarik napas mendengar rencana teman saya
yang akan membeli rumah dan rencanya menyusun keluarganya di kota ini, apakah ia tidak menyadari betapa ia akan berubah menjadi batu?
dan bahkan teman-teman saya yang lain yang dengan polosnya sekolah di luar pulau bulat ini untuk kembali kesini lagi untuk menjadi
seorang PNS, Oh tuhan apakah mereka tidak sadar kalau mereka akan memasuki kehidupan yang membuat mereka menjadi batu.
Betapa tragisnya, seolah olah mereka memang senang menjadi seonggak batu.

Renungan ini akan merubah hidup dan cara pikir saya, dan memunculkan tujuan hidup saya yaitu “saya berjanji dengan darah yang mengalir
di setiap nadi saya bahwa saya tidak akan pernah menjadi sebuah batu, sedetikpun”, setelah lulus saya berjanji akan
mencari pengalaman yang sebanyak banyaknya, selagi ada kesempatan saya ingin bekerja di luar negara saya atau bahkan
saya ingin pergi sejauh jauhnya,menyambangi kota sebanyak banyaknya, bertemu tipe orang-orang baru sebanyak banyaknya,
terus memunculkan urat nadi saya dengan berpikir sekeras kerasnya, hanya untuk tidak menjadi seonggok batu,
dan dari sini saya berjanji bahwa saya tidak akan hidup di kota kelahiran saya bahkan mungkin saya tidak ingin jasad saya
di kuburkan di sana, bukan bermaksud sombong dan angkuh dengan kehidupan orang-orang di kota saya tapi bahkan sedetik sebelum menutup matapun
saya akan menghirup udara dunia..

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s