mémoire de Bandung

Juli 2010 adalah kali pertamanya kakiku menginjak tanah parahiang untuk mengikuti bimbingan belajar di Ganesha operation bandung, semula kesanku biasa saja bahkan miris tentang kota ini, tempat pertamaku berada di jalan sumatera disebelah sma 3 bandung,hidup sendiri tanpa siapa-siapa memang sulit apalagi tempat untuk membeli makan lumayan jauh dari tempat tinggalku sehingga kadang aku perlu berjalan-jalan mengitari taman lalu lintas dulu,disana tempat yang sangat tenang,sejuk dan untaian pohon yang indah di sepanjang jalan lenggang di dekat sma 3 dan setiap malam aku ditemani oleh nasi goreng yang dibeli dari abang langgananku, nasi goreng yang enak ingin rasanya memakannya lagi :g.
Setelah satu bulan berlalu aku memutuskan untuk kos di wilayah pelesiran dengan jarak kira-kira 1,5 kilometer dari Institute  Tekhnologi Bandung, Tempatku yang baru ini menjadi tempat ternyaman di kota bandung selama 7 bulan kedepan, tempatku berada di lantai dua, terdiri dari empat kamar yang berisi 2 orang mahasiswa S1 dan dan 2 orang mahaiswa S2 “kang raden saleh yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, sering teman berdiskusiku dan sering menyapaku tiap magrib, semoga sukses kang” ,seorang bapak kos “pak Willy yang sudah menganggapku sebagai anak sendiri, selalu tersenyum hangat dengan suaranya yang perlahan dan halus setiap melihatku meninggalkan kos,ia juga membereskan barangku saat pergi meninggalkan bandung, maaf pak aku tidak bisa menepati janjiku 🙂 ” , seorang penjaga kos “mas hilman sang Informasi berjalanku yang selalu memberikan solusi rute kota bandung dengan angkot” dan satu lagi tempat makan di warung favoritku “warung jawa”, yang dijaga sebuah keluarga yang selalu tertawa saat kunci kosku tertinggal .
Tempatku mengasah otakku Ganesha operation sumatera sedari subuh dan berakhir kadang sehabis magrib, dan tempat favoritku ruang diskusi dengan meja bundarnya diwarnai dengan senyuman guru-gurunya “Bu bahasa inggris yang selalu ada disaat kami membutuhkan, terimakasih bu saya ingin mengucapkan terimakasih sambil mencium tangan ibu kalau bertemu lagi, aku cinta guru ini” dan teman-teman yang ramah “Imam sahabatku yang mengajarkan tekad dan usaha,selamat atas FK Unpadnya :), Rahma gadis ramah yang selalu tertawa dan bersemangat,maaf kita tidak bisa meleset sedikit dari ambisi kita :), Nufus gadis lucu yang selalu dipenuhi tawa,albert dan ojan sang pelawak dan penyemangat dari si kembar,kalian gadis bandung yang cantik dan kawan-kawan lain disana,Aku berharap kalian sukses”.
Beberapa bulan kedepan akhirnya kebutaanku dalam memandang kota ini dengan sebelah mata berubah menjadi sebuah keindahan, sebuah cinta, sebuah kenyamanan yang menciptakan kerinduan. aku rindu bandung,rindu kalian teman-temanku, rindu kosku beserta para isinya,rindu menunggu kamar mandi yang penuh setiap subuh terpaksa dialihkan melihat pemandangan bandung  dari balkon lantai tiga kosku , rindu menggigit sarapan buah apelku merahku di taman depan institute tekhnologi bandung setiap pagi,rindu memakan gorengan di depan st.bromeuss,rind  berlagak sebagai mahasiswa itb di jalan ganesha, melihat bunga merah muda di gerbang itb,rindu tersenyum disaat memandangi dan berputar putar di gerbang itb,rindu sujud dicoklatnya lantai kayu masjid salman,rindu makan malam di warung jawa dengan ditemani pengamen gratisan yang gitarnya mendendangkan lagu sunda, rindu udara basah kota bandung dikala subuh dan petang, rindu banjirnya kos karena hujan,rindu BIP dan Yogya,rindu angkot kalapa dago, rindu berjalan di jalan ganesha dan gelapnyawang sambil menghindari kotoran kuda.
Sejujurnya sebelum ke bandung sudah dari tamat SMA aku selalu berdoa setelah sholat agar dapat kuliah di ITB dan kudengungkan di salman, Aku bukan menyalahkan tuhan atau merasa dikhianati oleh tuhan melainkan diriku sendirilah yang telah mengkhinati hati dan memutuskan untuk tidak berkuliah di ITB “setelahnya keputusan inilah yang aku sesali setiap memoriku memutar kenangan kota bandung” rasa pengecutlah yang membuat aku membuat keputusan itu padahal setelah hari snmptn aku yakin jika lebih berani aku akan berhasil, aku mulai belajar hal penting dari keputusan itu bahwasanya kita harus membuang kepengecutan dari sebuah perjuangan, berhasil tidak berhasil urusan belakang asal kita memenuhi tekad awal kita dan yakin bahwa hanya karena hal itu kita melakukan semua ini dan pasti akan berhasil. Namun dari semua ini aku juga belajar sesuatu yang sangat penting yaitu Ikhlas, rasa ikhlas menerima semua keputusan, ikhlas menanggalkan impian dan menggantinya dengan yang baru, ikhlas mengikuti alur hidup dan selanjutnya pelajaran inilah yang membuat hatiku damai, aku ingat dengan ungkapan andrea hirata “yang paling berharga ialah jalan dalam perjuangan menggampai mimpi bukan hasil dari perjuangan itu” .

Tulisan ini bukan tulisan penyesalan tapi tulisan dari sedikit langkah manis sebuah pengalaman. tulisan ini tidaklah cukup untuk menceritakan semua kenangan indah di kota bandung, semoga dengan berakhirnya tulisan ini aku bisa ikhlas atas semuanya dan membuat memoriku indah yang terekam ini sebagai bara semangat untuk melangkah maju.

Iklan

2 Komentar

Filed under Pengalamanku, Uncategorized

2 responses to “mémoire de Bandung

  1. stevi

    bagus kata2 nya =D

  2. Rahma

    tulisan yang baguuuss Al
    berasa artis nih ada nama aku disana. Oia, makasih juga yaaw buat semangatnyaaa 😀
    semangat yang kamu berikan saat aku tidak mendapatkan apa yang diimpikan. but its okay. FE disini pun really good kok (try to love my own alma :D)
    jadi tertarik bikin blog juga nihh 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s